Jumat, Mei 15, 2009

Babak Baru Itu Telah Dimulai

Adalah sebuah pertanda dariNya tentang masa depan kami berdua
Namun ia maya hingga tak dapat disentuh dengan logika
Barulah kutemukan jawabannya kemarin: 13 Mei 2009
Hari keempat setelah ijab kabul itu diucap
Kamar Yakud di Villa Bukit Emas Singkawang menjadi saksinya
Bersama alam hijau, dan cahaya mentari pagi jam tujuh
Juga nasgor pataya dan secangkir teh hangat
Ditemani Bukan Cinta Biasa dari N70 juga K350i menembang :
Tak Bisa Pindah Ke Lain Hati: Bulan merah jambu…luruh di kotamu…….

Saksi bisu itu bernama Pantai Pasir Panjang dan pasir dan batu
Dan ombak yang sapa kaki kami berdua
Remah roti, biskuit dan botol air yang menatap tawa lepas saling berolok
5 huruf: INDAH



Juga saksinya lampu raksasa sore yang ditelan awan abu-abu, mau hujan
Jalanan Kota Amoy di kala senja beserta aktivitasnya
17.40 WIB jam tanganku: langsung ke masjid atau pulang dulu ke hotel
Revo biru pun antarkan ke Masjid Naqsabandy, Jalan A Yani, Singkawang
Mengisi perut di tempat makan siang tadi: Nasi Etek Cabang Pontianak
Pelayannya katakan retorik: ‘Baru kawin ye, Bang?’
Lantas ia tersenyum lebar, sangat lebar…apa maksudnya?

Sengaja aku cuplik kebersamaan di pekan pertama pernikahan
Kalau kau bertanya apa aku bahagia: Amat sangat.
Kalau kau bertanya kenapa: Separuh dien telah kudapatkan.
Kehidupan kami telah berubah atas status yang berganti
Ada hak ada kewajiban yang harus ditunai
Ada kelebihan ada kekurangan yang harus dimengerti
Ada sifat baik ada sifat buruk yang harus dipahami bahwa:
DIA YANG DINIKAHI BUKANLAH MALAIKAT, SEMPURNA

Terima kasih untuk Bapak Arif Joni Prasetyo yang sampaikan
Khutbah nikah tentang Syukur dan Sabar pasca akad
Untuk segala episode hidup, bukan hanya pesan klasik buat pengantin baru
Hatta pada semua hadirin tamu undangan 10 Mei 2009, Ahad lalu itu
Syukur atas semua nikmat dan anugerah yang diberikanNya
Sabar atas apapun yang kiranya di luar keinginan

Wahai pangeran yang telah menghalalkan farajku dengan janji suci,
ajari aku untuk bersyukur dan bersabar
Karena episode hidup bernama pernikahan ini akan kita lalui hingga nanti
Hingga mati.

NB: Esensi hidupnya kita di dunia adalah untuk beribadah pada Allah, maka ini adalah nasihat untuk diri pribadi, suami tercinta dan semua yang membaca bahwa pernikahan pun harusnya mengantarkan kita untuk lebih dekat padaNya. Pernikahan adalah sarana untuk beribadah padaNya.

4 komentar:

ushinawareta mengatakan...

iya yah!

jazakallah, udah mengingatkanku, bahwa menikah bertujuan untuk beribadah kepada-Nya. Subhanallah......

anakampah mengatakan...

Alhamdulillah telah memulai babak baru, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawardah dan mawrohmah.
http://anakampah.wordpress.com/2009/05/23/kontes-wisata-seo-sadau/

rhein fathia mengatakan...

ouch... lama ga buka blog, ternyata ada kabar menyenangkan darimu... selamat ya sayang... ^_^

nRizyana mengatakan...

makasi untuk semua:
pipit, bang agung dan rhein...
dan mua mua lah
jazakumullah khair katsirrr...
doanya membahagiakanku ^_^