Jumat, Januari 23, 2009

celakalah bagi orang yang sholat


Tulisan ini sebagai jawaban buat 2 blogger temen saya yang ngomen di postingan sebelumnya 'jangan tanam benih apapun'.

Pernah dunk denger kalimat di atas?
Celakah bagi orang yang sholat.
Itu bukan kata saya, melainkan kataNya di kitab suci kita semua: Al-Qur'an.
Tepatnya di surah Al-Maa'uun ayat 4.
Kalau aja kita stop di ayat itu, tentu jadi alasan buat ninggalin sholat, yah secara, Allah nyuruh kita sholat dan itu adalah ibadah yang paling utama, jadi tiang dalam agama Islam tapi koq bisa-bisanya bilang 'celakalah bagi orang yang sholat'???
Koq Allah ga konsisten dalam berfirman?
Kenapa Allah bisa ga teliti dalam menurunkan titah pada makhluk-Nya?

Bisa aja kita ngomong gitu kalo kita males baca lanjutan dari ayat itu.
Banyak dari kita tau kelanjutan ayat itu dalam bahasa Arab:
(4) Fawaylullil mushollin
(5) Alladzina hum an sholatihim saahuun
(6) Alladzina hum yuraauuna
(7) Wayamnauu nal maa'uun.

Tapi tau gak sih kita artinya dalam bahasa ibu kita: Indonesia.
(4) Celakalah bagi orang yang sholat
(5) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
(6) orang-orang yang berbuat ria
(7) dan enggan (menolong dengan) barang berguna.

Back to tulisan saya sebelumnya 'jangan tanam benih apapun'.
Sebelumnya terima kasih buat mardee dan brajadenta yang uda kasi komen lebih tepatnya kritik terkait judulnya yang kayanya terkesan provokatif. Apalagi terkait amal kebajikan buat tabungan akhirat ntar.

Saya nulisnya sebenarnya bukan ke arah sana-sana: akhirat.
Tapi saya tau ini juga bisa ke arah situ-situ: akhirat.
Toh saya mempersilakan semua yang baca buat melihatnya dari berbagai perspektif.
Tapi sekali lagi, bahasa provokasi seperti itu telah ada di Al-Qur'an sejak lebih dari 14 abad silam. Kayanya aja melarang kita untuk berbuat kebaikan, padahal tujuannya supaya pembaca melihat lebih jauh apa maksud sesungguhnya.

Sama seperti cover majalah Sabili terbaru (yang gak saya dapetkan di mbah gugel), judulnya: bunuh saja anak palestina. ya, mikir aja masa majalah radikal selevel Sabili bisa ngomong gitu dengan maksud sepolos itu? Gak mungkin lah. Belum baca aja saya udah tau maksudnya, pasti gak gitu. Itu bahasa provokasi media supaya yang baca covernya jadi tertarik buat baca dan syukur-syukur dibeli. (Yea, media is cool, man!)

Anyway, finally saya gak tau apa tulisan saya ini cukup memuaskan buat 2 blogger temen saya itu: mardee dan brajadenta yang uda komen di postingan sebelumnya. Yang jelas, salah satu inti dari tulisan saya 'jangan tanam benih apapun' adalah jangan lakukan sesuatu kalo gak siap dengan akibat dari perbuatan itu.

Kalo kita ngelakuin sesuatu, kita harus tau apa konsekuensinya, apapun itu. Entah yang akan kita lakukan itu baik atau buruk. Kalau baik, ya siap-siap aja ada yang komen: mendukung atau menolak, mencela, menyemangati dll. Kalau kita bakal ngelakuin yang buruk misalnya ngeliat gambar porno atau iklan di TV yang syur gitu, siap-siap aja tar tuh gambar melintas lagi di pikiran kita trus kita jadi mengangankannya trus kita jadi pingin melakukannya trus jatoh-jatohnya maksiat gitu...ya thats for example ajah.

Okeh, segitu aja tulisan saya kali ini.
Once again buat mardee dan brajadenta: makasi da komen tulisan saya sebelumnya.
So komen lagi dunk karena postingan ini ditulis juga karena komentar kalian.
Buat semua yang baca en buat saya pribadi:
jangan (sok) berani ngelakuin sesuatu kalo takut nerima konsekuensinya.
Berani berbuat, berani tanggung jawab.
Kalau gak, ya gak usah dilakuin: gitu aja koq repot.



5 komentar:

abunabilah mengatakan...

Assalammua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

http://www.pksbartim.co.nr
http://anakampah.wordpress.com

Khaifa ya ukhti, wah adek ane di Teknik Sipil ini sudah jadi penyiar yach, dah lulus lagi.
Tentang masalah celakalah engkau sholat, sungguhnya jahil bagi orang-orang mu'tazilah dan aqliyah yang menggunakan segala akalnya dalam menafsirkan sesuatu, sama seperti aliran al-qiyadah al-islamiyah.
Seputar Sholat , akan ana tampilkan disini
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Dan marilah kita selalu menjalankan dan menjaga kewajiban-Nya yang paling besar setelah dua kalimat syahadat, yaitu kewajiban shalat. Karena agung serta butuhnya seseorang terhadap kewajiban ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan untuk mengerjakannya tidak hanya sekali dalam sehari. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada kita untuk menjalankannya lima waktu dalam sehari semalam, pada waktu-waktu yang tidak merugikan sedikit pun bagi aktivitas kita. Bahkan sangat membantu dan menguntungkan kegiatan kita sehari-hari.

Hadirin rahimakumullah,

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menyebutkan ancaman yang sangat keras bagi orang-orang yang meremehkan kewajiban shalat. Tentu saja ini menunjukkan betapa besarnya kewajiban ini di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلاَةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا. إِلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَأُولَئِكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يُظْلَمُوْنَ شَيْئًا

”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui siksa yang sangat keras dan berlipat-lipat. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (Maryam: 59-60)

Di antara hal yang juga menunjukkan betapa agungnya keutamaan shalat, adalah apa yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dalam Shahih keduanya, yaitu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan shalat lima waktu dengan sungai yang mengalir di depan pintu seorang muslim dan digunakan untuk mandi sebanyak lima kali dalam sehari, sehingga akan menghilangkan kotoran-kotoran yang melekat di badannya. Begitu pula shalat lima waktu, akan menghapus dosa-dosa seorang muslim yang selalu menjalankan dan menjaganya. Hanya saja dosa-dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar seperti durhaka kepada orangtua, mencuri, riba, memakan harta anak yatim, berdusta, menipu dalam jual beli dan semisalnya, maka tidak akan terhapus kecuali dengan bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka sungguh merupakan kenyataan yang sangat mengherankan dan menyedihkan, ketika kita dapatkan sebagian kaum muslimin tidak memerhatikan bahkan seolah-olah tidak tahu kewajiban shalat lima waktu ini. Sehingga di mata mereka, shalat lima waktu seperti amalan yang tidak ada nilainya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah menjelaskan bahwa orang yang tidak mengerjakan shalat adalah bukan saudara kita seiman. Begitupula shalat adalah perkara yang membedakan antara seorang muslim dengan orang kafir. Hal ini disebutkan di dalam firman-Nya:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّيْنِ ...

”Dan jika mereka mau bertaubat dan menegakkan shalat serta menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara kalian seagama.” (At-Taubah: 11)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ

”Sesungguhnya (yang membedakan) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Bahkan Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan: ”Sungguh, Al-Kitab dan As-Sunnah serta ijma’ shahabat telah menunjukkan kafirnya orang yang meninggalkan shalat.”

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,

Oleh karena itu, orang yang sama sekali tidak mau mengerjakan shalat dan tidak mau diingatkan untuk menjalankannya dihukumi sebagai orang kafir yang keluar dari Islam. Sehingga sebagai akibat dari hukum tersebut, kita tidak boleh lagi memakan daging hewan sembelihannya. Tidak boleh pula kita menikahkan anak-anak perempuan kita dengannya, serta tidak berhak baginya untuk menerima harta warisan serta konsekuensi-konsekuensi lainnya. Begitu pula, sudah seharusnya kita membencinya dan meninggalkan serta menjauhinya, selama dia tidak mau menerima nasihat dan terus-menerus dalam keadaan demikian. Apabila dia mati dan belum juga bertaubat, maka mayatnya tidak perlu dimandikan, dikafani, dan dishalati serta tidak dikubur di pemakaman kaum muslimin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ketahuilah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memerintahkan kepada kita shalat lima waktu juga mewajibkan bagi kita untuk menjalankannya secara berjamaah. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam ayat-ayat-Nya dan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan dalil-dalil yang ada menunjukkan bahwa meninggalkan kewajiban ini tanpa ada sebab yang syar’i adalah dosa besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِيْنَ

”Dan tegakkanlan shalat dan tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama-sama orang yang ruku'.” (Al-Baqarah: 43)

Maka tentu saja merupakan kenyataan yang memprihatinkan, ketika kita dapatkan banyak di antara kaum muslimin yang meremehkan kewajiban ini. Mereka mendengar adzan dikumandangkan, namun tidak mau memenuhi panggilan adzan tersebut untuk segera menuju ke masjid. Padahal dia dalam keadaan sehat dan kuat. Seakan-akan dia mengatakan: ”Aku mendengar panggilan untuk menghadap-Mu ya Allah, namun aku tidak akan memenuhinya.” Bahkan hal ini terjadi pada sebagian orang yang bertempat tinggal di sekitar masjid. Rumah mereka di dekat masjid, namun hatinya jauh dari masjid. Wal ‘iyadzubillah (Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).

Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah

Sebagian yang lain dari kaum muslimin ada yang berangkat ke masjid namun diiringi rasa malas. Mereka tidak segera mempersiapkan diri untuk pergi ke masjid, namun menundanya sampai menjelang atau saat iqamah dikumandangkan. Sehingga mereka terburu-buru ketika menuju masjid. Hal ini tentu menyelisihi aturan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam adab berjalan ke masjid. Yaitu berjalan dengan tenang tanpa melakukan gerakan yang tidak diperlukan, ataupun melihat ke kanan dan kiri tanpa ada keperluan, dan menghadirkan hati untuk menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka terluput pula dari mereka keutamaan yang besar bagi orang-orang yang menunggu shalat di masjid. Yaitu malaikat akan memintakan ampun dan rahmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuknya selama dia tidak terkena hadats. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim.

Padahal kami yakin bahwa apabila mereka dipanggil untuk mendapatkan dunia, tentu mereka akan segera mendatanginya kapan saja tanpa ada rasa malas. Begitu pula, mereka akan mau menunggunya tanpa rasa bosan, meskipun harus antri dan memakan waktu berjam-jam. Yang demikian ini tentu menunjukkan lemahnya iman, dan menunjukkan bahwa dunia lebih mereka utamakan daripada akhirat.

Hadirin rahimakumullah

Selanjutnya ketahuilah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-haditsnya telah menjelaskan kepada kita tentang aturan-aturan yang berkaitan dengan shalat berjamaah. Di antaranya adalah kewajiban meluruskan dan merapatkan shaf. Banyak hadits-hadits yang menunjukkan kewajiban ini. Di antaranya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَتُسَوُّوْنَ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

”Sungguh luruskanlah shaf-shaf kalian, atau kalau tidak demikian sungguh Allah akan menjadikan wajah-wajah kalian saling berpaling.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Maka sudah semestinya bagi imam dengan dibantu oleh para makmum untuk memerhatikan kewajiban ini.

Hadirin rahimakumullah

Di antara aturan yang juga harus diperhatikan dalam shalat berjamaah adalah tidak diperbolehkannya bagi seseorang untuk berdiri sendiri di belakang shaf ketika sedang menjalankan shalat berjamaah. Hal ini sebagaimana tersebut di dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى رَجُلاً يُصَلِّي خَلْفَ الصَّفِّ وَحْدَهُ فَأَمَرَهُ أَنْ يُعِيْدَهَا

”Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki shalat sendirian di belakang shaf, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk mengulanginya.” (HR. Abu Dawud dan yang lainnya, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Dan di antara kewajiban yang juga harus diperhatikan berkaitan dengan shalat berjamaah adalah kewajiban bagi makmum untuk mengikuti gerakan imam. Sehingga tidak boleh baginya untuk mendahului imam ketika ruku’, sujud, dan gerakan lainnya. Begitu pula tidak mendahuluinya ketika mengucapkan takbir dan tidak terburu-buru mengucapkan amin sebelum imam menyempurnakan bacaan Al-Fatihah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ اْلإِمَامِ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ أَوْ يَجْعَلَ اللهُ صُوْرَتَهُ صُوْرَةَ حِمَار
Jazakallahuٍ

abunabilah mengatakan...

Please visit to my link
www.pksbartim.co.nr
www.abunabilah.co.nr

mardee mengatakan...

brajadenta belum komen yak? ok, saya dulu deh..

gini Na... dari tulisanmu di posting yang sebelumnya yang saya kurang setuju cuma 1 kata, ya cuma 1 kata apapun.
karena dengan kata apapun otomatis akan menafikan yang lain. sama halnya dengan menyuruh jangan menanam benih apapun juga, baik itu benih yg bermanfaat atau tidak.

lain dengan kata Celakalah bagi orang yang sholat.
dari kalimat itu bisa diartikan "celakalah bagi orang yang sholat" (tapi tidak semua orang yang sholat akan celaka)
beda klo kata2 di atas menjadi celakalah bagi setiap orang yang sholat. -misalnya-
dari kalimat itu, bisa diartikan tiap orang yang sholat akan celaka, entah itu yang khusuk atau yg tidak..

beda jg dengan jangan lakukan sesuatu kalo gak siap dengan akibat dari perbuatan itu. -itu menurut saya-
mungkin lebih tepatnya jangan lakukan sesuatu apapun kalo gak siap dengan akibat dari perbuatan itu

~wallahu a'lam~

semoga bisa diterima :)
klo ada yang salah dari kata2ku diatas mohon dikoreksi ya..

agungsuparjono mengatakan...

Buat mardeeeee,
Memang orang Indonesia itu agak begayaan (ujar urang banjar). Seperti Al Qiyadah Al Islamiyah, menafsirkan ayat/per ayat tanpa ilmu (nahwu dan sharof). Sesungguhnya lihatlah jalan para sahabat nabi, lihat tafsiran mereka. Ane cerita pengalaman dahulu di sebuah masjid ada orang-orang tablighi datang bersama orang arab, semuanya menyimak perkataan orang arab tersebut, dan ada penterjemah dari indonesia yang menerjemahkan dari bahasa arab ke dalam bahasa Indonesia. Sebelum ane tau bahasa arab, ane nurut aja apa kata orang yang menerjemahkan itu. Tapi setelah ane belajar bahasa arab, dan ane ingat-ingat kejadian itu, ane langsung terkejut, ternyata terjemahannya jauh dari apa yang diucapkan orang arab tersebut. Nah dari kisah itu, kita menyadari bahwa belajar ilmu tidak boleh kepada sembarangan orang, akan tetapi harus belajar pada manhaj yang benar, manhajnya salafus sholeh.

mardee mengatakan...

@agungsuparjono: maksudnya apa ya? *mikir
apa ada yg salah dg kata2ku di atas??