Senin, Oktober 19, 2009

Setelah Iman, Harta Berharga Itu Adalah Dia



Sore itu, Ahad, setelah seharian di rumah saja, berdua.
Melewati waktu pagi hingga petang dengan berdua dan dia, yang kucinta, bertanya dengan tersenyum lebar:
"Pacaran yok. Kite jalan. Dinda mau beli ape? Beli baju?"
Tidak perlu waktu lama bagiku untuk menjawab,
"Dinda nda mau kemane-mane. Dinda pengen deket Abang ja. Karena setelah iman, abang harta berharga buat dinda."



Rasanya baru kemarin kami menikah. Padahal 10 Mei 2009 itu sudah lebih dari 5 bulan yang lalu. Tapi, Subhanallah, rasanya cinta di hati ini semakin membengkak saja. Janji Allah memang tidak pernah salah. Siapapun yang saling mencintai karenaNya maka Ia akan tambahkan cinta itu, berlipat-lipat ganda tak terhitung dan terjangkau logika.

Pernikahan 5 bulan lalu selalu saya syukuri, Insya Allah. Sebab saat mengambil keputusan untuk mengatakan saya siap dilamar dia, saya telah memintaNya untuk memberikan jawaban apakah lelaki yang sekarang menjadi suami saya itu adalah lelaki terbaik ataukah tidak. Ternyata ia memang terbaik buat saya.Alhamdulillah.

Jarak jauh secara rutin memisahkan kami karena ia bekerja di luar kota, tepatnya kota Pinoh, di Kabupaten Melawi, sebuah kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Sintang. Jujur, di prosesi ta'aruf saya sengaja untuk tidak lupa mengatakan bahwa saya adalah seorang perempuan yang tidak bisa jauh dari yang saya cintai. Saat itu ia menjawab bahwa jadwal kerjanya nun 10-12 jam perjalanan dari kota Pontianak itu bisa diatur sesama tim dalam perusahaan. Nyatanya, sekalipun kedatangannya bulan ini jauh lebih cepat dari jadwal, saya selalu dan selalu tidak dapat menahan luruhnya air mata malam terakhir kami bersama. Sudah kebayang rindunya menggigit sangat.

Mengapa Allah tidak memberi pekerjaan buat Si Abang di Pontianak saja? Mengapa tidak setiap hari saya bisa melihat dan mengabdi? Mengapa harus kami lalui pertemuan setiap hari hanya dengan SMS, chat, FB, atau telpon dengan paket obrol2 mentari? Dan mengapa mengapa lainnya.

Masih ingat saya akan surat yang saya tulis di desktop laptop Si Abang. Cuplikannya adalah bahwa Allah sedang menitipkan pesan atas jarak jauh yang memisahkan kami. Entah apa pesan itu. Yang jelas saya senantiasa meminta padaNya agar selalu mengilhamkan husnudzdzon kepadaNya yang sudah mengatur semua ini.

4 komentar:

Eka mengatakan...

so touching, cin...

thekupu mengatakan...

I will also say this to my husband, one day :)

nRizyana mengatakan...

@ kak eka: makasi kak...jarak jauh juga sering misahkan kak eka n bg rey kan...mungkin bs bikin tulisan???

@ dhz: one day...hope its soon ;-)

Riafvanti mengatakan...

mungkin kalau ketemu setiap saat akan cepat timbul rasa bosan hehe