Kamis, November 20, 2008

Biar Sedikit Tapi Berkah (versi lengkap)

Basi gak sih ngomongin pernikahan?

Kayanya ga juga. Itu dia yang mau saya tulis kali ini. Tentang konsep persiapan menuju jenjang kehidupan berikutnya atau yang lebih keren lagi kalo kita katakan: menggenapkan setengah agama dan mengikuti sunnah rasul. Ga sedikit yang bilang kalo persiapan materi adalah persiapan paling penting. Yea, secara, hidup itu butuh makan, hidup itu realistis. Pasti kelaparan yang butuh makan, kedinginan yang butuh pakaian, kehujanan yang butuh rumah, keringkasan perjalanan yang butuh kendaraan, kebutuhan mobilitas dalam HP dan pulsanya, de el el...Hidup itu uang, salah satunya. Tetapi apakah untuk menikah harus sudah punya uang banyak? Sebanyak apa? Seberapa rupiah? Berapa batas minimalnya? Siapa yang menentukan limit itu?

Sesungguhnya saya ingin ketawa aja, ngakak pada diri sendiri yang masih bau kencur soal dunia dan problemanya. Itu kalau saya lagi berhadapan dengan generasi setelah datuk maringgih tapi tetap punya konsep pernikahan seperti ingin menjodohkan siti nurbaya. Uang asap, gaji sebulan, pekerjaan apa, penampilannya meyakinkan atau ga, de el el...Sebenarnya ga salah, ga sama sekali. Mereka toh para orang tua yang sejatinya sangat sayang pada anak-anaknya. Tetapi ga salah juga dong kalau saya bilang kalau (mohon maaf) itu berlebihan.

Nah, saat saya sedang mendengar tausiyah Ustad Yusuf Mansur tentang Keluarga Sakinah yang saya sengaja copas dari Ruang Produksi di radio dimana saya bekerja, saya jadi pingin ketawa lagi. Tetapi kali ini lain. Saya ingin menertawakan iman dan keyakinan saya yang kadang sangat minim tentang keMahakayaan Dia di atas 'arsy sana. Bahwa Dia punya janji akan rezeki bagi mereka yang mau menikah karena Dia, Allah Azza Wa Jalla. Salah satunya karena takut berbuat maksiat. Itu pasti.

Menyinggung judul di atas, saya hanya ingin melontarkan apa yang saya yakini bahwa hidup ini masih bisa berjalan tanpa konsep minimal-maksimal keuangan keluarga. Yang penting kerjaan dan hasilnya halal, dan senantiasa berada di jalanNya. Kalo inget tausiyah Ustad Yusuf Mansur, pesan beliau dalan tausiyah Keluarga Sakinah itu adalah: jaga sholat! Baik itu berjamaah dan pastinya tepat waktu. Saat adzan memanggil disaat itulah kita telah siap untuk menghadapNya.

Jujur, kalo inget masa-masa lalu dimana saya belum banyak mengenal dan mendengar ilmu syariah dari para asatidz tentang pernikahan, berkeluarga dan pernak-perniknya. Saya bisa memahami betapa masih banyak orang yang mengaku Islam tapi seperti berat mengejawantahkan konsep Islam dalam hidupnya. Qur'an kemana, Sunnah kemana...yang ada adalah hitungan rasional yang diperoleh dari nenek moyang dan pengalaman hidup. Allohua'lam apakah asam garam itu didapat dengan adanya unsur agama atau ga. Karena biasanya yang memandang ajaran agama itu belum sempurna (maksudnya perlu penambahan logika manusia juga termasuk soal pernikahan begini) emang tu orang-orang perlu diberesin aqidahnya dan wajib pengajian rutin.

Dan saya mau jujur lagi, saya menikmati, sangat menikmati tausiyah Ustad Yusuf Mansur itu dan percaya bahkan yakin seyakinnya kalau ada jalan yang mudah bagi para pasangan (muda atau tua) jika mereka menjaga shalatnya. Menjaga shalat! Ya. Ga percaya? Denger aja tausiyahnya. Ternyata perkara menjaga shalat bisa 'membawa' rezeki. Saya juga ga tau apa kata 'membawa' adalah pas atau ga. Toh rezeki udah ditentuin atas kita saat kita berusia 40 hari ketiga alias 4 bulan dalam kandungan.

Yang jelas, dalam tausiyah itu, disampaikan kisah seorang yang menjaga shalatnya dan subhanallah ....just listen it by yourself and comment it by yoour own opinion, it's real and fantastic story.

Jadi, sodara-sodara, saya sarankan pada anda, jika anda ingin hidup penuh keberuntungan, entah itu soal rezeki, pernikahan atau yang lainnya, ayo jaga sholat kita. Saat Allah memanggil via muadzin harusnya serta merta kita penuhi panggilanNya itu. Saya dan adik-adik pengajian saya sedang berlomba untuk mengumpulkan kisah ajaib terkait kemudahan dan kejutan-kejutan Allah setelah kami (belajar untuk) menerapkan shalat tepat waktu.

Back to
judul di atas: BIAR SEDIKIT TAPI BERKAH, sebenarnya saya hanya mau menulis tentang keyakinan saya tentang hidup ini ga masalah kalau uang kita ga banyak atau ga sebanyak mereka yang men-judge kalau hidup berkeluarga itu perlu uang segini, segitu, buat ini buat itu.

Poin utama dari tulisan ini adalah TIDAK ADA MASALAH DENGAN PENGHASILAN SEDIKIT JIKA INGIN BERKELUARGA. Asal kerjaan halal, senantiasa jaga shalat, bertanggung jawab, itu sudah cukup untuk membina kehidupan bersama seseorang di bawah atap pernikahan.

Coba tanya mereka yang penghasilan bulanannya banyak. Berapa sih nominalnya untuk dikatakan banyak itu? Lima juta? Sepuluh juta? Dua puluh juta? Atau berapapun. Tanya pada mereka, apa mereka bahagia? Apa mereka yang sudah memenuhi standar nominal-kata orang-orang kebanyakan- lantas bahagia? Sudah bahagia? Belum tentu. Banyak yang justru bermasalah dengan banyaknya harta yang mereka punya.

Kebanyakan yang saya tahu, rumah tangga orang-orang kaya itu dipenuhi kisah perselingkuhan. Istri di rumah memang selalu diiyakan kalau minta uang lebih dari jatah bulanan, gesek kartu kredit oke, belanja apapun boleh, kebutuhan anak bertumpuk silakan...yah, begitulah. Secara materi memang bisa terpenuhi. Tapi apa artinya kalau ada pengkhianatan yang dimudahkan dengan banyaknya uang yang diagung-agungkan itu?

Oh ya jelas, kalau tidak ada kebahagiaan atau kalau terlalu ekstrem dibilang tidak ada kebahagiaan, bolehlah kita katakan lebih banyak sengsara dan tertekan batinnya. Ya jelas, barometer manusia yang dipakai. Allah yang menciptakan dunia ini lengkap dengan aturan dan petunjuk sudah punya grand design buat manusia ngejalanin hidup termasuk tentang pernikahan.

Ya, biar sedikit tapi berkah. Buat apa banyak uang kalau berkah ga didapat. Berkah itu apa sih? Berkah itu nilai tambah yang kita dapatkan atas suatu hal. Misalnya uang yang berkah. Kalau kita lihat nominalnya kecil, tapi kalau berkah, ada nilai tambah disana. Mungkin ia ada saat kita benar-benar membutuhkannya, ia digunakan untuk hal yang menambah pahala akhirat kita, ia menambah ketenangan, dlsb.

Kalau kita kaitkan dengan pernikahan dan kehidupan rumah tangga, jelas ini ada hubungannya. Bahkan untuk seluruh kehidupan hingga maut menjemput. Untuk yang terakhir kalinya, izinkan saya katakan: biar sedikit tapi berkah, karena uang itu tidak apa-apanya saat ia tidak bisa berfungsi sebagai pembawa ketenangan. Apalagi menambah keimanan.

Dan...kalau sudah begini, saya mau nantangin mereka yang sudah baca postingan ini dan yakin akan kekuasaan Allah atas sedikit tapi berkah (sekali lagi tantangannya buat yang yakin sama Allah aja) untuk mengejawantahkan keyakinan itu dalam kehidupan nyata. Omong kosong dong kalau yakin cuma di hati atau mulut aja. Ingat, omong kosong!

5 komentar:

ushinawareta mengatakan...

yawda. to the Point jak! jadi Kak Nana kapan NIKAH?? hihihiihihihi.... UPS.....

sama, lha saye kapan nikah?? wakakakaak... upss lagi.

saye dilarang ketawa nga-kak, same Bang Hana.

nRizyana mengatakan...

Haa, betol itu! Tau gak pertanyaan yang mau kNa2 tanyakan me pit.

Yee, namenye gak manusie, klo ditanya kapan nikah, mane gak tau, belom dikasi tau Allah, pit...hiks

Tapi kalo uda tau, pastilah pit tau tar...jieh...klo nda nikah didunie, pastinye diakhirat...tol nda?!

acisbilqis mengatakan...

nana dear..?????uhuk..uhuk..tuk "jaga sholat"^_^

Ayka Bunda Azka mengatakan...

setuju adikku...aku telah membuktikannya...

zowwww, kafan menyusulna...??????

semrawut mengatakan...

no comment aja ah.. hehe..